the daisy days of difla






         each color has its own darkness…

June 10, 2008

september

Filed under: gloomy daisy — difla @ 8:55 pm

ini masih bulan juni kan ‘Day?
kenapa rasanya seperti sudah september
dinginnya begitu menggigit
menyusup ke dalam kulit
ketika dinginnya makin menusuk
aku menggigil gemeletuk
dengan mata merah menahan kantuk

        terasa kering kerontang sunyi dan kosong
        hampa mendera berpeluh lara
        tanpa setetespun air mata

ini angin kencang september, ‘Day
lihatlah pokok pohon vig yang miring terguncang
daun anggur yang berlepasan
biji gandum emas yang bertebaran
kaca di jendela hijau yang hebat bergetar
juga payung bergaris putih biru
yang nyaris terbawa terbang

        (oh, betapa dahsyatnya terpaan badai..!)

ini pasti september, ‘Day
aku yakin itu
dan hari ini aku merasa
waktu berjalan mundur
ke tiga tahun yang lalu
lorong-lorong gelap itu
telah berhasil memerangkap waktu
dan kebun bunga matahari itu
hampir bisa menghantarkanku
pergi bebas
bersama camar putih ke laut lepas

pergilah ‘Day..
aku masih ingin duduk
di bangku kayu kokoh
yang selalu setia menopangku sendiri
bertabur wangi dan melayang tinggi
sembari mendamba
andai waktu bisa berhenti

———-

taken and edited (with permission) from my "dad’s" book

karena

Filed under: gloomy daisy — difla @ 8:53 pm

karena setiap kata
mengandung deraan lara
yang menusuk tulang hingga ke sumsumnya.

karena setiap kehadiran
adalah bagian dari derita berkepanjangan
yang menggores perlahan-lahan.

karena setiap laku
adalah keikutsertaan rasa ragu
yang cuma terekam dalam bisu.

karena setiap keterhubungan
adalah ketakutan akan
terulangnya kesalahan.

karena setiap langkah
selalu membawa secuil kenangan buruk
yang terlanjur mengejawantah.

karena setiap waktu
adalah pengulangan dari persoalan
yang berputar dari itu ke itu

karena setiap kejujuran
membawa resah akan terjadinya kehilangan
besar-besaran

karena setiap perkara
menimbulkan kemungkinan terjadinya
selaksa silang sengketa

lalu…
hendak kita bawa kemana…
rangkaian panjang kereta ini…
nantinya…

March 5, 2008

heaven & earth

Filed under: gloomy daisy — difla @ 10:23 pm

dia tidak berharap
berjalan di langit
diantara seribu bintang
berkawan bidadari peri dan dewa-dewi
dan setelah lelah terbang
menabrak awan lembut putih bersih
duduk rehat sejenak
di atas lengkungan bianglala

dia cuma berharap
berjalan kaki tanpa sepatu
lari menjauhi singa dan harimau
berpanas-panas di gurun tandus
menerabas rimba belantara
menginjak ranting kering rumput berduri
menembus badai dan hujan lebat
berpelukan mencari hangat

dia tidak mau
hanya kauletakkan
tinggi di awan
dia tidak mau
hanya kauberi impian
yang jauh dari jangkauan

yang dia mau
bersamamu selalu
dalam keseharian ("mu" dan "nya")
menghadapi bersama
semua lara luka dan duka
yang selamanya nyata

        dan..
        bukankah sebenarnya
        disitu dulu tempat kamu dan dia berada?

———-
still for them, after all that happened:
"it’s not when or where you arrive, it’s taking the journey that counts.."

January 26, 2008

senja

Filed under: gloomy daisy — difla @ 6:35 am

karena aku adalah senja yang sebentar lagi
akan beranjak pulang bersama
tenggelamnya matahari
layaklah bila bunga-bunga itu menutup kelopaknya
dan jadi layu tertunduk
selayaknya pula bila dahan ranting juga mengering meranggas ditinggalkan hijau daunnya

tak
apa bila kau kecewa dan mencari sepetak tanah gembur
untuk kautanami
benih bunga pagi harinya
demi supaya suasana ceria kembali ada.

tapi bukankah saat pagi itu datang
senja sudah tenggelam duabelas jam sebelumnya?

December 12, 2007

kenapa dengan yang kita punya?

Filed under: friendly daisy — difla @ 9:23 am

kenapa engkau harus memungutnya dari jalanan
batu itu sekian lama terendam di selokan
berlumpur bau menyengat tajam
dan meski engkau telah melihatnya sekian lama,
kutahu selama ini engkau selalu mendiamkannya

lalu kenapa pula engkau menggosoknya penuh harapan
padahal engkau tahu aku pasti akan keberatan
bukan karena baunya atau lapis lumpurnya
tapi karena kutahu engkau tak mungkin menyerah
sampai engkau akhirnya bisa mengkilapkannya.

kenapa engkau harus menyimpannya dalam pelukan
padahal sekarang kilapnya makin menyilaukan
gemerlapnya membuat mataku harus memejam
tapi seperti biasa, apapun yang kukeluhkan
engkau tak pernah merasa perlu menghiraukan

dan apakah engkau
masih akan menyimpannya
ketika engkau semestinya
mulai mengingat berapa
yang kita masih punya..?


——————–
(for "her", since the only man she’s ever known is breaking up her heart and home; and such is love that she would die for him while he would treat her carelessly..)

July 15, 2007

the call of the owl

Filed under: gloomy daisy — difla @ 9:19 am

dengan sejumput rona merah beranjaklah matahari meninggalkan nyanyian burung hantu. lalu berderaklah semua ranting pohon kayu tempat hinggapku. membara terbakar jadi arang dan abu. daun yang hijau-kuning dan yang coklat mengering tak sempat meluruh jatuh. mereka akhirnya meremah jua jadi debu. meninggalkanku yang sendiri berdiri setelah berdebam menimpa tanah basah pagi hari.

matahari makin menguning lalu memutih menyilaukan. bersambut embun sejuk yang menguap menyatu di udara lepas. bebaslah ia, namun ‘kan selalu datang lagi di setiap esok harinya. hingga matahari pun selalu merindukan hadirnya. namun selaksa sapa dan cicit burung tak pernah lelah mengabarkan kapan ia datang. dimana ia menanti. dan kemana ia ‘kan pergi.

dulu engkau berkawan dengan matahari itu
tapi kini,
burung hantu telah memanggilku…

November 23, 2006

bitterly sweet

Filed under: gloomy daisy — difla @ 7:56 am

"rasa seperti ini manis namanya".
itu kata-kataku untukmu di pagi buta menjelang keberangkatanku. buku masih setengah terbuka. masih belum pula kutahu bagaimana nanti akhir ceritanya. kau mungkin tak pernah membacanya. cuma menyimak ketika aku mengeja. tak hendak membantah, tapi juga tidak ada kata setuju…

"rasa seperti ini resah namanya".
itu kata-kataku ketika berjalan keluar rumahmu. masih langkahku tertahan sesekali. ketika pandangmu jatuh di ujung sepatu. atau sewaktu bicara kita mengharuskanku berhenti. kau pun mungkin tak sungguh-sungguh mendengarku. tapi semuanya tak pernah kusesali…

"rasa seperti ini ragu namanya".
itu kata-kataku yang keluar tiba-tiba. ketika terang bintang mengambang di atas mendung. berlaksa tanya masih menggelembung bagaikan busa. kukira engkau maupun aku tak kan sanggup membuatnya membelah pecah. pun bila ujung jarum runcing itu berulang kali kita tusukkan di permukaannya…

"rasa seperti ini getir namanya".
itu kata-kataku dalam kecewa. buku itu harus ditutup sebelum selesai dibaca. kata-kataku tak harus sempurna kaucerna. tanya tak terjawab harus dibiarkan seperti adanya. dan kuharap kau ingat ini: meski aku dan engkau tak ada, bumi di bawah kita tetap berputar sebagaimana biasa…

——————–
(i choose the sweet life, never knew i’d be bitter than the sweet..)

August 8, 2006

crossroad

Filed under: gloomy daisy — difla @ 7:31 am

barangkali kita memang pernah
bersilang jalan
bertemu di titik itu
saling bertegur sapa
berkenalan
rehat dan berhenti
melewatkan waktu bersama

lalu kita berangkat lagi
mengambil jalur yang sama
menikmati angin pohon dan hujan
membelai rambut kepala

lalu kita sadar
ternyata jalan bersama
justru membuat kita makin
jauh dari tujuan semula

lalu kita bertengkar
jalur siapa yang lebih baik untuk diambil
tujuan siapa yang lebih baik untuk dicapai
hingga letih
hingga mengerti
tak ada baik-buruk
tak ada kalah-menang

lalu kita lanjutkan
perjalanan masing-masing
dalam sendiri
duka menggigit masihkah berarti?

lalu ujung jalan tak kemana-mana
kita pun kembali bertanya
akankah di depan sana
ada persilangan yang sama?

——————–

(and I believe I’ll walk them all, no matter what I may have planned..)

one day @ porte maillot

Filed under: gloomy daisy — difla @ 6:49 am

pernah kubisikkan maafku
di siang terik dan dingin menggigit
hari terakhir musim panas ketika itu

belum gugur daun
belum lupa siapa-siapa
belum sadar sepenuhnya
masih sesal menggelayut
masih pasrah masa berjalan
masih berduri sepanjang hari

di bangku plaza
sendiriku bersama kepulan
asap menthol dan wangi anggur merah

kudesiskan maafku sepinta
bukan kau yang ada di porte maillot
bukan siapa-siapa
untuk sejenak
hanya aku
dan ketakmampuanku…

——————–

(i tried to run from your side, but each place i hide will only reminds me of you…)

July 30, 2006

jeda

Filed under: friendly daisy — difla @ 8:58 am

punggungan bukit berbadai kencang. manusia kecil berlangkah ringan hampir tersungkur. tak lekang semangat menyusur tepian kabut ungu kelabu berangin dingin menusuk hampir membeku. puncak berpohon meranggas membuat matahari terlipat dalam senja hingga merahnya menua berjelaga. cahaya yang tinggal sekedip sentuhkan gelisah pada ujung telapak dan jemarinya. sehembus bisik melintas lirih:

"berhentilah"

rumput kering menguning berujung runcing gemersik membangunkan lelahnya. sebelenggu sesal mengepung nafasnya saat tanjakan penuh belukar berbunga jingga dirasanya mengebas oleh sekian ribu ayun jejaknya. sesemakan rata sudah. pula rumputan binasa rebah. pusaran kerikil bertemperasan menampari manik hitam tatapnya. luapkan amarah penuh murka dengan hantaman berlaksa makna:

"berhentilah!"

gamang yang meruang bingkiskan senoktah terang dalam kusut-masai jalinan ragunya. satu demi satu nafas terhisap-terhembus selimutkan rona hangat di keremangan bias lesunya. sebingkai damai mendesir halus, membungkus hening yang menyergap erat dan membebat lekat jernihnya semesta. manusia kecil berujar tanpa suara:

"andai pernah aku duduk sejeda
sebelum fajar merekah terbuka,
barangkali tak ‘kan ada
gentarku menjala purnama.."

——————–
(..rest, if you must, but don’t you quit..!)

July 22, 2006

perisai tajam

Filed under: friendly daisy — difla @ 5:19 am

pada saatnya nanti
sebilah pisau yang terhunus itu
mungkin akan menikam ulu hatimu

tapi kau takkan berdarah
sebab ribuan anak panah yang berdesing
telah melesat meluncur mendahului

meski menilaskan torehan-torehan kecil
selagi mereka masih erat tertancap
tak ‘kan ada sisa tempat yang tak terselimuti

dan pada saatnya nanti
bersyukulah karena terlidungi
oleh perisai rasa sakitmu sendiri…

———-
(..so, stick to the fight when you’re hardest hit; it’s when things seem worst that you must not quit..)

July 7, 2006

hampir nadir

Filed under: gloomy daisy — difla @ 12:15 pm

lalu kebutaan menerakan jauhmu
lalu ketulian menebalkan bencimu
lalu kebisuan memerangkap letihmu

biarkan tenggelam serpihremahku
sebelum luruh kuncup yang mengharapmu
sebelum pupus tunas yang menantimu

(meski hampir pasti, itu bukan hidupmu…)

May 18, 2006

manusia gua

Filed under: gloomy daisy — difla @ 8:19 am

kalau kau pernah masuk ke gua itu, kau akan melihat aku. aku cuma
sebentuk makhluk aneh yang tinggal di dalam gua. kau tak kan tahu,
seberapa tua usiaku. kau juga tak akan bisa melihat seperti apa
wajahku. aku memilih jadi makhluk tak berwajah. karena wajah yang
dikaruniakan kepadaku sekarang telah berubah menjadi kutukan yang
menyakitkan bagiku.

kubebat kedua kakiku dan kuikat erat-erat.
aku memilih untuk membelenggu diriku selamanya, aku memilih untuk
bersusah-payah menahan niatan untuk berkelana. jangankan berkelana,
keluar dari sarang pun kini tak ingin aku lakukan. tidak, aku tak mau
keluar dari dalam gua gelap dan lembab ini, karena kemanapun kakiku
kujejakkan selalu terlihat menuju arah yang berbeda dengan yang aku mau.

kusumpal
mulutku dengan kain tebal yang bisa membungkus sempurna. aku tak ingin
menceritakan apapun kepada siapa saja, dimana saja. jangan harap aku
akan bercerita, membuka sumpal mulut untuk mengawali pembicaraan pun
tak berani aku lakukan. aku memilih untuk puasa bicara, karena setiap
kali mulutku kubuka, kata-kata yang keluar selalu terdengar berbeda
dengan apa yang aku maksudkan.

kututup diriku dari dunia. aku tak
mau lagi jadi siapa-siapa. aku memilih jadi makhluk gua. liang gelap
dan lembab inilah satu-satunya tempat yang nyaman bagiku. tak ada yang
akan menganggapku berbeda. tak ada yang akan menyalahartikan apa yang
akan aku lakukan. aku memilih tempat ini, karena disini aku merasa
aman.

aman.. meskipun aku harus hidup sendirian..

April 12, 2006

makhluk asing dari negeri kenangan

Filed under: gloomy daisy — difla @ 9:00 am

dia berhenti di sudut jalan
memang masih segar dan masih terlihat tegak ketika berdiri.
tapi kemudaannya yang dulu selalu menyertai
sekarang tak begitu terlihat di sosoknya lagi
darah yang mengaliri tubuhnya mestinya masih sesegar kemarin,
(ketika alirannya yang menggelegak seiring
langkah cepat kakinya dan jangkauan jauh lompatannya
memompanya untuk pergi kemanapun dia sukai dan ingini)
tapi kenapa tubuhnya seakan tak punya sisa
tenaga yang mestinya masih banyak dia miliki?

dia tepekur di sudut jalan
wajahnya memang masih halus tak berkeriput
tidak pula terpeta garis-garis halus disana
meski sudut bibirnya kini tebal mengering terbakar
dan matanya makin cekung dalam kehitaman
semangat yang bergolak dalam dirinya
mestinya tidak turun ke titik nadir begitu saja
setelah kemarin cerianya terbaca oleh siapa saja
dan menjalarkan ledakan tawa ke seluruh sudut kota
tapi kenapa kepalanya tertunduk selalu
tak berani menatap ke atas, bahkan menengok ke depan?

dia bergumam lirih kepada
siapapun yang lewat di depannya:

"isi kepalaku seakan telah terlempar
terburai berserakan di tengah jalan
isi dadaku seperti sudah pecah
berhamburan ke segala penjuru lapangan
tak ada waktu lagi bagiku untuk
mengumpulkan serpih-serpih itu
dan memasangnya seperti semula.
ketika semua serpih sepertinya telah terkumpul
selalu saja aku kehabisan waktu.
ketika semua keping sepertinya bisa kembali menyatu
selalu saja aku terlambat tahu.."

ia ingin mencoba mengumpulkan dan menyatukan
semua serpih, remah, keping, dan puing
yang tak pernah berhenti
mengepung dan berlarian berkeliling
tapi ternyata temannya yang bernama "keinginan"
sudah tak pernah menganggapnya ada
ternyata sahabat lamanya yang bernama "harapan"
sudah lama berketetapan untuk meninggalkannya
ternyata saudaranya yang bernama "kerinduan"
cuma inginkan dia jadi kenangan

lalu seonggok kumpulan serpih, remah, keping
dan puing itu berkata lantang kepadanya:

"..akulah kini-mu
akulah nyata-mu
akulah yang setiap hari hidup di sekitarmu
akulah yang senantiasa berjajar mengepungmu
akulah yang selalu menari-nari di sekelilingmu
maka…
hadapilah aku..!!"

January 19, 2006

jagad kecil sang gadis kecil

Filed under: friendly daisy — difla @ 9:55 pm

lihat bunda!
ada bianglala!
(suara kecil memekik gembira, rona merah cerah terhias di wajah, senyum lebar ceria membuka tawa, mata memicing menyipit, pandangi separuh bundaran berwarna di langit)

gadis kecil di jagad kecil melihat keindahan lewat wajah bundanya

lihat bunda!
ada candik ayu!
(suara kecil di sore hari, wajah berseri cerminan hati, senyum tipis tersungging di senja kuning,
mata melebar melihat terang di awang, selepas matahari berpijar sehari)

gadis kecil di jagad kecil merasakan kecantikan lewat mata bundanya

lihat bunda!
ada bintang jatuh!
(suara kecil di malam sunyi, gelap membayang di wajah bening, mulut terbuka takjub terpana, mata membelalak mengekor pendar lesat cahaya, pindahan bintang di angkasa)

gadis kecil di jagad kecil menyaksikan keajaiban lewat senyum bundanya

lihat ananda!
ada mendung!
(suara wanita halus mengelus, lembut tangannya membelai kepala, senyum damai biaskan tenteram, membawa ketenangan pada wajah mungil sedih di sampingnya)

gadis kecil di jagad kecil menyesap kesedihan dalam belaian bundanya

lihat ananda!
ada angin!
(suara wanita tegas mengeras, lengan hangat pelindung hembusan dingin, rengkuhan dalam penuh pengertian, membuang cemas dari tubuh mungil yang didekapnya)

gadis kecil di jagad kecil menepis kecemasan dalam dekapan bundanya

lihat ananda!
ada kilat!
(suara wanita tegar sedikit menggelegar, jari ramping menunjuk ke samping, degup memburu lebur di dada, sosok mungil ketakutan tersembunyi dalam pelukannya)

gadis kecil di jagad kecil membuang ketakutan dalam pelukan bundanya

(bersama bunda)
gadis kecil di jagad kecil
teriaknya melengking lantang bergema:

"aku tidak takut datang, dunia!"

pergi kembali

Filed under: gloomy daisy — difla @ 8:56 pm

dua menara pelabuhan tua
tegak bertahan
tinggal runtuhan
sekejap hadirmu kurasa
hangat menyapa

langit bersih biru tua
tanpa awan
tiada mega
sesaat sosokmu kulihat
datang menyelinap

tiang layar ratusan kapal
tertiup angin
berdenting bersentuhan
sesekali bisikmu kudengar
lirih memanggil

rumpun hijau semak rosemary
harum rempah
segar wangi
sedetik semerbakmu kutengarai
membuatku ingin kembali..

——————–

(remembering some sparkling mem’ries of the one i left behind; la rochelle, 17 september 2005)

January 18, 2006

anak laki-laki dan matahari

Filed under: friendly daisy — difla @ 8:56 pm

seorang anak laki-laki
bersahabat dengan matahari
bercakap, merenung, menangis
setiap saat sepanjang hari

anak laki-laki dan matahari tak terpisahkan

anak angkat sang matahari
dongeng beribu bintang
tertidur dalam pangkuan
usapan kasih menenangkan

anak laki-laki asuhan matahari berbahagia

seorang anak laki-laki
bianglala dilihatnya kali pertama
cantik elok beragam warna
kagum terpana terpesona

anak laki-laki berkenalan dengan bianglala

anak laki-laki teman bianglala
bertemu selalu bersama-sama
tertawa, bercanda, bergembira
duka derita entah kemana

anak laki-laki melupakan mataharinya

sepotong bianglala mulai bertanya
kenapa tak hanya berdua saja
menuntut semua tak ada sisa
atau pergi selamanya

anak laki-laki memilih bianglala

matahari menangis pergi
berteman awan mendung dan angin
bianglala tak terbit sesudahnya
tanpa matahari dia tak mungkin ada 

anak laki-laki menyesal kecewa 

anak laki-laki mencari matahari
bianglala sembunyi entah dimana
mengaku salah dan alpa
memohon kembali ke dekapannya 

anak laki-laki menangis mendamba 

matahari menerima kembali
tapi tak lagi seorang diri
awan mendung angin mendampinginya
teman sejati dalam pedihnya 

anak laki-laki terduduk merenung nasib 

matahari berbesar hati
anak laki-laki tak lagi diasuhnya
seperti awan mendung dan angin
semua adalah temannya, sejajar setara

anak laki-laki tak
punya ibu lagi..

bianglala tak pernah
datang lagi..

matahari tak pernah
mendongeng lagi..

semua kini tak sama
lagi..

January 9, 2006

lempuyangan, setiap sore

Filed under: friendly daisy — difla @ 4:29 am

berkumpul mereka,
hidung bangir bibir merekah
silikon cair menempel resah
derak kereta bagaikan berkah
gerbong mendekat hilangkan gundah

berhias mereka,
bedak tebal meblok-meblok
lipstik murah merah mencolok
dandanan menor baurkan sosok
belitan kain jalan terseok

beraksi mereka,
suara parau jeritkan lagu
musik seadanya mengiring kelu
kerincing uang logam lirih beradu
berapapun didapat, tersenyum malu-malu

berjuang mereka,
menelan ejekan segala rupa
tak nampak malu sepanjang masa
berharap pulang tanpa dicela
demi nafkah entah untuk siapa

akan bertahankah mereka
dalam belantara kota kejam durjana?
di tengah ucapan keji menghina?
dalam geliat aib mendera?
di antara arus deras menerpa?

tapi..  kalau tidak bisa,
mau kerja apa mereka..?

——————–
(for "laura", whenever i may find them..)

January 8, 2006

a story of “kmb”

Filed under: friendly daisy — difla @ 11:23 pm

dalam gubug kecil sederhana
becek, jelek, rimbun belukar
dalam kereta panas gerah
bau pesing dan keringat
dalam deru bis kota
asap knalpot kelabu pekat
ia temukan dunianya
yang lekat dengan cinta

dalam riuh gemuruh kota
selalu sibuk hiruk-pikuk
dalam gedung indah megah
menjulang mencakar mega
dalam kelebat busana mewah
wajah-wajah tampan cantik jelita
tergetar goyah dunianya
tercemar sudah peluh asanya

dalam rumah besar dan indah
seluruh penjuru bukan miliknya
dalam kamar penuh airmata
seluruh ruang sepi adanya
dalam nyala lilin di meja
seluruh hidangan hambar terasa
runtuh sudah dunianya
hancur terhempas diguncang prahara

dalam lelah kerja pelariannya
untuk membunuh waktu tersisa
dalam riuh malam berwarna
yang terbitkan beragam citra
dalam cerita tiada jeda
untuk lupakan deraan lara
dunia baru datang menggoda
pesonanya mendekap segala asa

dalam hujan menetes bocor
gubug kumuh pinggiran kali
akankah kembali indah dunia
dengan bahagia yang seadanya?
akankah kembali utuh dunia
dengan harapan yang bersahaja?
akankah kembali tegak dunia
dengan dambaan yang sederhana?

——————–
(for all "kmb", anywhere in the world..)

November 24, 2005

selembar kertas pada sepotong pagi

Filed under: cheery daisy — difla @ 5:27 am

aha!
sepotong pagi yang baru saja kujumpai membawa sejuk tetesan embun yang tercerai-berai di tangga beranda. belum tinggi matahari memanjat angkasa. belum kering juga percik embun yang tinggal sisa-sisa. bau rerumputan dan bunga liar menyeruak diantara sepi yang telah mengental di tempat ini. ada kesegaran menyapa di hari yang baru dimulai. aku bertanya dalam hati: kenapa di tempat ini aku tak pernah melihat pagi?

aha!
selembar kertas putih bersih kutemukan di lantai beranda. tak bercacat tak bercela. tak sedikitpun ada coretan atau sketsa terpeta disana. darimana datangnya kertas ini? lagi-lagi aku bertanya dalam hati. aku mengambil dan membaliknya, tetap tak ada tanda apapun yang bisa menceritakan dari mana asalnya. kubiarkan kertas itu tergeletak disana, tetap bersih tak bernoda.

aha!
secangkir kopi terhidang di meja beranda. panas mengepul berasap menggoda. aromanya yang harum dan segar membawa gairah yang sepertinya tak pernah lagi kurasakan setelah sekian lama. aku tertegun dan kembali bertanya: sudah sedemikian lamanya kah aku terkurung di dalam ruang tak berpintu jendela ini? kenapa selama ini aku tak ingin keluar dari himpitan sunyi yang memenjarakan diri?

aha!
sebuah kereta berjalan melewati jalur di depan beranda. keletak ladam dua ekor kuda yang berpadu dengan derit roda-rodanya memecah hening yang telah lama melekat di segenap penjuru tempat ini. kuda itu meringkik kecil, bagaikan salam pagi yang membawa kehidupan kembali. tak bisa kucegah tanya yang bergaung lagi: sudah berapa kali dia melewati jalur itu tanpa pernah kusadari?

aha!
aku tak mau tertidur lagi, karena semua mimpi indah itu kini tak pernah datang menghampiri. aku tak mau terkurung lagi, karena ruang tempat aku bebas bernapas kini makin terasa sempit menghimpit. aku tak mau terpuruk disini, karena setiap hari ada kereta yang bisa kutumpangi dan membawaku ke tempat manapun yang kuingini. aku akan mengawali hari bagai kertas putih yang kutemukan tadi. polos dan suci, seakan menanti sentuhan tangan yang akan menggoreskan banyak cerita baru lagi..

——————-
(today is my moment, and right now is my story.. i’ll laugh, and i’ll cry, and i’ll sing..)

November 22, 2005

negeri dahaga

Filed under: gloomy daisy — difla @ 5:36 am

sebotol air telah kuhabiskan dalam perjalanan yang membuat letihku tak pernah punya tempat bersandar. detak jantung yang tak lagi hening di dalam dada, menyentak terburai dalam nafas yang masih tersisa. batang pohon palma terakhir yang ada di depan mata membuat kekeringan makin tampak nyata. pasir dan kerikil dimana-mana. tandus dan hampa. aroma kematian yang kental menusuk, memanggil burung-burung nasar yang lapar terbang berputar-putar. dalam haus yang tak terkira, ternyata tanpa kusangka telah kumasuki negeri dahaga..

compang-camping jubah yang melekat oleh keringat menyisakan sengatan panas yang membakar perih di kulit hangusku. dan ketika senja mulai hilang, kejamnya malam yang berkunjung dalam dinginnya langit terbuka tanpa awan telah pula menerobos lewat cabikan-cabikannya, meninggalkan gigitan beku yang hunjamkan beribu ngilu ke dalam sumsum tulangku. dimanakah salib selatan ketika itu? bahkan ketika tak satupun ada gugusan mega menutup angkasa, tak kulihat sekerdip bintang yang bisa kujadikan pemandu untuk membawa tubuh ausku..

sepanjang malam yang gelap gulita, hempasan angin gurun menderakan rintihan suara gundah gulana. tak kutengarai darimana arah datangnya, karena semuanya telah baur dan bias oleh bisikan menggelegar suara-suara asing dari dalam diriku. jeritannya menguasai seluruh pendengaranku, riuh rendah menggedor-gedor gendang telingaku. kutunggu datangnya embun yang kan jatuh di dini hari. kunanti datangnya fajar yang seharusnya merekah setiap pagi. kemana mereka kini? kenapa tak kunjung pergi kelam ini? kenapa tak jua datang sang dini dan pagi hari?

gelap yang membayangiku adalah karenamu. sengatan panas yang membakarku dan gigitan dingin yang menusukku adalah karenamu. segala silang sengketa yang terjalin menyatu adalah karena aku mencarimu. habis sudah semuanya. kalau pernah ada orang bijak berkata: "tak ada kalah-menang dan tak ada pemenang-pecundang", bagimu semua tak pernah ada. yang kutahu barangkali pesanku belum sempat kaubaca, mungkin bahkan tak sempat kauterima. ternyata kemenangan untukmu adalah segalanya. dan pembalasan bagimu adalah raja..

kutinggalkan negerimu yang kini tak lagi mengenal pagi. kuseret compang-camping dan cabikan-cabikan kelu yang senantiasa tersandang di bahuku. tak ada gunanya mencari yang meninggalkanku pergi. tak ada artinya memberi kepada yang tak mau menerima kembali. bagimu tak ada harganya langkahku mendekati, karena kau pasti akan segera berlari menjauh lagi. negeri hijaumu yang kucari, negeri dahaga lah yang kudapati. pedulimu yang aku nanti, hempasan menjauh punggungmu yang kauberi.

tak akan kucari cerah pagimu lagi

aku harus mencari

matahariku sendiri

——————–

(people said, "it ain’t freezin’!"; what’s they know? they didn’t watch you go..)

November 21, 2005

sebuah perhentian di kebun pandan

Filed under: gloomy daisy — difla @ 3:47 am

endut,
bunga mawar kuning itu sudah mati
ketika aku pergi dan kamu tak ada
teman yang kuminta merawatnya
lebih suka memelihara tanamannya sendiri
dia tak mau memupuk atau menyiram
dia tak peduli ketika hama datang
ketika daunnya memutih dan berlubang
hingga ketika helai mahkotanya berguguran

endut,
api di tungku itu telah padam kini
ketika aku pergi dan kamu tak ada
teman yang kuminta menjaganya
lebih suka mengurusi tungkunya sendiri
dia tak peduli ketika nyalanya mengecil
dibiarkannya bara merah itu mendingin
lalu arangnya lebur jadi abu semua
dan hangatnya pun habis tak bersisa

endut,
ketika mawar itu mati dan tungku itu padam
disinilah malam ini kita berdua berada
dalam kebun pandan luas dan dingin
tanpa hangat tungku atau nyala api
cuma sebatang lilin yang menemani
kalau lilin itu habis dan padam apinya
kalau wangi pandan itu hilang karena angin membawanya
tolong bangunkan aku segera..

——————-
(now that you’re gone, i’m trying to take it, learning to swallow the rage..)

November 17, 2005

bungur merah muda

Filed under: gloomy daisy — difla @ 1:27 am

bulan itu bungur sedang berbunga

warnanya yang ceria merah muda

tersapu angin bertebaran kemana-mana

hingga ke bangku beton dekat pohon cemara

bulan ini bungur juga sedang berbunga

sepanjang jalan pasti kan banyak kaujumpa

ada warna ungu yang sendu menyela

diantara hijau daun-daunnya

bungur merah muda di bangku beton kita

pernah membawa sekelumit bahagia

do’akanlah ungu yang sekarang ada

tak kan ijinkan duka datang menerpa..

——————–

(for my schoolmates, remembering our old -happy- days..)

November 14, 2005

blue at fontainebleau

Filed under: gloomy daisy — difla @ 1:00 am

fontainebleau ketika itu

bukan hutan tempat para raja mengejar buruannya

tapi tempat pohon willow, walnut, ceddar dan oak

menyapa dalam gigitan dingin udara senja

(dan membuatku merapat pada mimpi hangatmu)

fontainebleau ketika itu

bukan puri tempat pangeran dan puteri berdansa

tapi tempat cassiopeia pertama kulihat di langit utara

redup tak setara berbanding beruang besar di sisinya
(dan membuatku mencari terang pemandu kepadamu)

fontainebleau ketika itu

bukan jalan setapak tempat anjing raja dilepaskan

tapi tempat berjalur bagai labirin menyesatkan

rumit berbelit, berkelok, dan bersimpangan

(dan membuatku mencoba menemukan jauh jejakmu)

dan di fontainebleau ketika itu

kala hangatmu tak ada,
kaulah yang menemani dalam dinginku

kala terangmu tak ada,

kaulah yang menemani dalam gelapku

kala jejakmu tak ada,

kaulah yang menemani dalam tersesatku

———-

(the pathways of fontainebleau had been leading me back to you..)

November 8, 2005

my lost fairy tale

Filed under: gloomy daisy — difla @ 11:12 am

tak ada tarian bidadari di mimpiku lagi
mereka terbang tinggi menyusuri tepian pelangi
menyusul para malaikat yang telah lebih dulu berangkat
menuju langit kedelapan untuk bermain di lautan awan

tak ada nyanyian peri di mimpiku lagi
suara mereka melirih larut terbitkan perih
harpa yang mereka bawa tak bisa lagi deraskan do’a
dan sepi yang tersisa tak jua berhenti goreskan lara

tak ada wajah dewa-dewi di mimpiku lagi
tampan dan elok rona bercahaya itu perlahan sirna
tersaput kelabu mendung yang turun bergulung
kelamnya menodai wajah-wajah mereka yang tanpa dosa

biarlah tak satupun mimpi datang menghampiri
biarlah hari yang menjelang membeliakkan jendela hati
meski sendiri tanpa bidadari, peri, dan dewa dewi
di muka bumi, ternyata aku masih bisa tegak berdiri

———-
(i thought i saw my heaven. now my heaven’s gone away, i’m here out in the cold, but still standing..)

October 28, 2005

point of no return

Filed under: gloomy daisy — difla @ 10:45 am

kuletakkan semuanya di atas meja
biar semua kartuku terbuka
biar kau tahu, di tanganku aku punya apa
dalam penggalan hidup yang telah kita jelang
tak penting lagi siapa pemenang siapa pecundang
kata seorang bijak: dalam perkasihan tak boleh ada kalah dan menang..

kumulai satu patah kata
biar terungkap semua dusta
biar kau sadar, aku masih sosok yang sama
cuma seonggok kotoran yang kaupungut dari selokan
bukan mutiara di lumpur yang ‘kan berkilau oleh asahan
katamu: ketaktahudirianku adalah kesalahan berujung penyesalan..

kuberikan semua pasrah dan rela
biar seluruhku kaugenggam sempurna
biar aku ingat, tanpamu aku tiada
hanya serumpun belukar tajam yang hidup di tengah rimba
tak mungkin jadi semak bunga elok yang penuh warna
kataku: kalau duriku menusukmu, aku takkan berhenti mencoba melunakkannya..

———-
(you’ve helped me hold on, you have a heart like an open door..)

October 13, 2005

after the ordeal

Filed under: gloomy daisy — difla @ 6:24 pm

kalaupun gelombangku masih menghantammu
tangkaplah angin yang deras menderu
dan yakinlah dermaga yang jauh menanti
tak kan mengelak bila kaudekati

kalaupun gelisahku masih mengusikmu
anggaplah itu sisa rasa yang terbalut ragu
karena sendiriku yang pernah kautemani
tak kuperkenankan menanti datangmu lagi

kalaupun temaramku masih menyentuhmu
lepaskanlah hingga benar-benar berlalu
karena tiadaku yang kini telah kauisi
tak mungkin mengijinkanmu berbalik menepi

kalaupun semburatku masih membayangimu
ingatlah kalau aku-ku semu
dan bahagiaku yang tak terberkati
tak mungkin akan memintamu kembali

kalaupun bimbangku masih memberati langkahmu
tutuplah mata dan telingamu
karena apapun yang terjadi
kau tak boleh lagi berhenti disini

———-

(..then like a swallow, you’ll fly away like birds have flown..)

October 10, 2005

castle on a sandy beach

Filed under: gloomy daisy — difla @ 9:32 pm

ketika kaulihat puing-puing berserakan di hadapanku
dan kaulihat aku memungutinya satu per satu
untuk mencoba menyatukannya lagi
menjadi sesuatu yang utuh kembali
apa yang engkau pikirkan?

ketika kaurebut serpihan itu dari genggamku
lalu melempar dan membuangnya jauh-jauh
sambil berkata:
"kau tak mungkin bisa menyusunnya sendiri!"
apa yang engkau pikirkan?

ketika kaulihat tangan rapuhku tiba-tiba gemetar
selagi aku mengangkat satu bongkahan berat dan besar
untuk mencoba membangunnya lagi
menjadi sesuatu yang tegak berdiri?
apa yang engkau pikirkan?

ketika kaurenggut potongan itu dari rengkuhku
lalu membiarkannya lepas hingga terjatuh
sambil berujar:
"kau tak mungkin bisa mendirikannya lagi!"
apa yang engkau pikirkan?

ketika kaulihat aku memisahkan satu kepingan tajam
yang kuanggap sebagai sebuah ganjalan
biar bisa kubuang sejauh pandang
supaya bentukan itu tak lagi kan tergoyahkan
apa yang engkau pikirkan?

ketika kauambil kepingan itu dari tanganku
lalu kautaruh lagi di tempat itu
sambil berucap:
"kau tak mungkin bisa memisahkannya dari dirimu!"
apa yang engkau pikirkan?

(apa yang ada dalam pikiranmu tentang aku saat ini?)

———-
(..while your heart’s still aching, bleeding you strength.. and me are mournin’ out, tryin’ to get you to stay.. don’t you ever think that the best is -probably- still to come..?)

August 31, 2005

in the death of the night

Filed under: gloomy daisy — difla @ 3:47 am

dan terbitlah malam oleh kilau senja yang menghilang
sesaat kulihat merahmu memberiku warna dalam kegelapan
letih oleh keinginan, jernih karena kemurnian
namun tak mungkin kubiarkan beningmu mengeruh dalam kepura-puraan

dan terbangunlah malam oleh bulan yang mengambang
sesaat kutengarai redupmu menerangiku dalam kekelaman
pekat oleh kegetiran, indah karena kebersahajaan
namun tak ingin kubiarkan kerdipmu memijar dalam buaian

dan terdekaplah malam oleh mendung yang menerawang
sesaat kukenali isyaratmu menyapaku dalam kegundahan
sesak oleh kebahagiaan, pedih karena ketidakpastian
namun tak pernah kubiarkan nyalamu padam dalam kesepian

dan terkuburlah malam oleh fajar yang menjelang
sesaat kutemui sebuah ketiadaan yang menyakitkan
penat oleh kepelikan, mengabur karena penerimaan
namun tak akan kubiarkan dirimu melunglai dalam kesendirian

———-
(..something to remind you.. you once were my midnight, my talk, and my song; but -i am sorry- finally i found that all about us were wrong..)

August 29, 2005

a mournin’ elegy

Filed under: gloomy daisy — difla @ 5:04 am

kan kurengkuh sendirimu dalam sepiku
karena aku yang kaukenal adalah semu
bukan aku yang kamu mau
bahkan bukan aku yang aku mau

kan kutemani heningmu dalam diamku
karena aku cuma punya senandung bisu
tidak bisa menyuarakan hasratku
apalagi meneriakkan inginku

kan kusentuh bimbangmu dalam raguku
karena resah gelisah itu makin memburu
membaurkan arah yang kutuju
dan membuat gamang setiap langkahku

kan kubasuh perihmu dalam pedihku
karena aku sama tersakitinya sepertimu
tak mungkin sembuh oleh waktu
tidak pula oleh hadirmu

kan kupeluk sedihmu dalam dukaku
karena tak mungkin kubagi bebanku
dan tak kan ada lagi luruh air mataku
pun tidak di haribaanmu…

———-
(..how can i forget all that has been? if only we could still be friends, we’ve suffered enough..)

August 28, 2005

dari waktu ke waktu

Filed under: gloomy daisy — difla @ 3:29 pm

dari waktu ke waktu adalah pahatan
pada pokok kayu segar yang baru ditebang
ukiran halus bisa kausentuhkan di permukaannya
bisa pula kaubuat takikan yang tak berguna

dari waktu ke waktu adalah lukisan
pada kanvas polos putih yang tak bercela
kau bisa membuatnya jadi gambar berwarna cerah
atau sekedar coretkan resah yang tak berkisah

dari waktu ke waktu adalah nyanyian
yang memecah keheningan dalam diam
senandung lembut menghanyut bisa kauciptakan
atau cuma teriak serak yang keluar dari kerongkongan

dan dari waktu ke waktu bersamamu
adalah sebatang kayu dengan pahatan yang tak sempurna
adalah sebingkai gambar dengan tumpahan cat dimana-mana
adalah sebuah lagu yang tak pernah selesai melodinya

tapi setidaknya kita sadar sepenuhnya
dari waktu ke waktu kita membuatnya bersama-sama..

———-
(..it’s not when or where we arrive. it’s taking the journey that counts..)

saat rehat siang itu..

Filed under: gloomy daisy — difla @ 3:13 pm

sejak punggungmu berlalu dari hadapanku di malam dingin berkabut itu, aku selalu berusaha mencari sisa-sisa hadirmu di ruang sepiku. remah-remah kenangan yang masih bisa kukumpulkan akhirnya mengantarkan aku pada sebuah jalur di rerumputan.

di ujung jalur itu ada rumah tua dengan kursi kayu yang tergeletak begitu saja di berandanya. secarik kertas tertempel seadanya pada sandaran yang lapuk mengerja. aku berhenti, duduk meluruskan kaki lalu mengamatinya. ada sebuah peta, tertulis dengan pensil tipis, nyaris tak terbaca.

kubawa kakiku menelusuri jejak demi jejak yang di sana-sini terputus, hingga kutemukan lagi tanda lain yang membuatnya menerus. tidak ingin aku berhenti memacu langkahku sebelum kutemukan satu titik baru yang kuyakini akan membawaku kepadamu.

tengah hari mulai menjelang. sudah tak ada lagi rumput ilalang. tak ada daun kering gugur luruh atau derak ranting jatuh dari pohon meranggas kerontang. aku tersesat di tengah padang terbuka. kosong dan hampa. cuma debu dan kerikil terserak di mana-mana.

tapi panas lembab cuaca tak membuatku jera. terus kucari pertanda, barangkali masih ada jejak yang tak kasat mata, atau angin yang berbisik tanpa suara. tapi semakin aku berusaha, semakin tiada hasilnya. salahkah petanya? ataukah yang salah adalah caraku membacanya?

pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan membuat kelopak mataku berat oleh kebimbangan. dalam lelapku yang pasrah, aku menyerah. kau kan kulepaskan bila memang itu sebuah jawaban. pergimu kan kubiarkan kalau memang dambamu adalah kebebasan. tanpamu aku harus tetap bertahan.

dalam lelap pasrah saat rehat siangku
tiba-tiba kukenali pertanda itu
pada harum bau tetesan air yang masih baru
dari hujan pertama yang jatuh ke tanah berdebu
kutemukan kau di situ

———-
(for my nowhere man, whenever i may find him..)

August 26, 2005

that one little young bird

Filed under: gloomy daisy — difla @ 5:52 pm

tak usah kaukuatirkan burung kecil yang basah sayapnya itu. jangan kaujemur dia di bawah terik siang, nanti dia malah terpanggang. biarkan saja bulunya mengering dengan sendirinya. kalau waktunya telah datang, bulu-bulu halus kering dan ringan itu akan membawanya melayang-layang.

tak usah kaukuatirkan burung kecil yang belum bisa terbang itu. jangan kaupaksa dia menelan pelajaran yang terlalu susah, nanti dia akan berkeluh kesah. biarkan saja dia belajar sesukanya. kalau memang sudah waktunya, dia akan melatih dirinya sendiri hingga dia bisa terbang keluar dari sarangnya.

tak usah kaukuatirkan burung muda yang mulai bisa berkelana itu. jangan kaukurung dia dalam kandang berjeruji besi, nanti dia malah melarikan diri. biarkan dia menjelajah kemana dia suka. kalau dia sudah kenal dunia kecilnya, lama-lama dia pasti tahu jalan pulangnya.

tak usah kaukuatirkan burung muda yang ingin pergi itu. jangan kaucegah keberangkatannya, nanti dia akan berontak juga. biarkan dia mencari sendiri tempat tinggalnya, yang paling nyaman dimana dia ingin berada. kalau saatnya telah tiba, ingatlah bahwa kau harus siap melepaskannya.

kapan kau akan mengerti, bahwa aku bukan lagi burung kecil yang harus selalu kaulindungi?
kapan kau akan memahami, bahwa aku juga bukan burung muda yang harus selalu kauawasi?

———-
(would you like to be the wind beneath my wings..?)

August 25, 2005

kini dan nanti

Filed under: gloomy daisy — difla @ 1:29 am

ketika aku masih sekuat ini
mungkin tak terbersit di kepalamu
bahwa beberapa tahun lagi
aku tak kan mampu berjalan sepanjang tepian kali
atau sekedar duduk minum kopi bersamamu sampai pagi

ketika aku masih seriang ini
mungkin tak terpikirkan bagimu
kalau suatu hari nanti
aku tak bisa lagi seenaknya mengumpat dan tertawa
atau meminum sebotol anggur hingga tandas tak bersisa

ketika aku masih semuda ini
mungkin tak terbayangkan olehmu
bila saatnya tiba nanti
aku bukan lagi penjelajah yang biasa pergi seorang diri
atau pencerita yang biasa berceloteh semalam tanpa henti

kalau aku tua nanti
akankah kau tetap setia berdiri
menungguiku merajut selimut dan kaus kaki?
masihkah kau bersedia duduk menemani
dan mendengarkan keluh kesahku sepanjang hari?

kalau aku lebih dulu mati
maukah kau tetap mendampingi
hingga tubuhku ditanam menyatu dengan bumi?
maukah kau menjenguk kuburku setiap hari
dan membawakan setangkai daisy?

maukah kau..?

———-

(..between tomorrow and today, there is a bridge across forever..)

August 22, 2005

just a soupçon

Filed under: gloomy daisy — difla @ 6:40 am

kan kuceritakan kepadamu tentang cahaya
yang membiaskan kilaunya dalam gulita
temaramnya tak pernah menebar warna
karena pendarnya memang cuma sekedip mata

kan kuceritakan kepadamu tentang lagu
yang memecah sunyi dalam perjalanan bisu
tiada nyaringnya kan mengganggu
karena bisiknya memang hanya sehalus bulu

kan kuceritakan kepadamu tentang udara
yang menghangat kala pagi masih belia
tiada sengatnya kan liar menyala
karena hawanya tak pernah sepanas bara

kenapa harus kau berikan segala yang kaupunya
bila sedenting sekerjap dan seberkas saja
telah mengisahkan lebih banyak cerita..?

———-

(when the whole story has been told, should I ask for more..?)

itu cuma selokan

Filed under: gloomy daisy — difla @ 5:21 am

itu cuma selokan. bukan kali jernih beriak putih. selokan itu kotor airnya, bau busuk dan anyir menguar kemana-mana sepanjang alirannya. kalaupun kaupaksakan berjalan menyeberanginya, lumpur sampah kota yang pekat mengental akan menempel erat setinggi lututmu, bau busuk dan anyirnya yang menyengat akan menetap disitu, bersama gatal-gatal dan ruam memerah yang ditinggalkannya di kakimu.

itu cuma selokan. bukan sungai indah menawan yang tepinya bisa dipakai jalan-jalan. tak ada bunga berwarna yang tumbuh di garis airnya. tak ada jalur pejalan kaki untuk mereka yang ingin cari angin di sore hari. kalaupun kaupaksakan berjalan menyusurinya, belukar berduri tajam bisa menusuk telapakmu yang tak bersepatu, menderakan perih berdarah yang akan membekas di kulitmu.

akulah selokan itu.
dan malangnya, kaulah pejalan kaki itu.

———-

(..wish I could forewarn you that I was such an adorable jerk..!)

my very own cul-de-sac

Filed under: gloomy daisy — difla @ 3:25 am

sejak berdirimu mendekati sudutku
adalah tengaran bagiku
akan bermulanya sebuah kurun waktu
ketika baraku jadi segenggam abu

sejak letikmu membiaskan pandangku
adalah pertanda bagiku
akan baurnya sekat yang buntu
menuju berandaku yang dingin membeku

sejak jelajahmu menyentuh ruangku
adalah peringatan bagiku
akan hilangnya batas membatu
dalam rumahku yang tak berpintu

kau boleh padamkan baraku
kau pun boleh masuk ke berandaku
dan buatkan aku sebuah pintu
agar aku bisa keluar dari rumahku

tapi berpaculah dengan waktu
dan tuntaskanlah maksudmu
sebelum merah senja menerbitkan kuldesak-ku
dan memenjarakan kebebasanmu

———-

(..yet still it takes me by surprise..)

August 20, 2005

gambar buram dalam bingkai retak

Filed under: gloomy daisy — difla @ 11:14 am

sebuah gambar buram memudar dalam bingkai yang retak itu kutemukan dalam kotak usang berdebu yang bertuliskan "masa lalu". rekahan itu makin melebar ketika kusentuh, lalu hancur menjadi kepingan-kepingan kecil, dan berjatuhan menimpa kakiku. kurekatkan lagi keping-keping kecil itu. semuanya bisa menyatu. tapi rekahannya tetap tersisa, menerakan jejalur memanjang, berkelok dan bercabang.

(ingin aku bertanya kepadamu: seburuk itukah masa laluku dan masa lalumu? serumit kelokan dan percabangan itukah jalan yang pernah kita lalui dulu?)

meski masih menyisakan rekahan yang membuatnya tidak sempurna, bingkai itu masih bisa menyatu kembali. namun gambar buram itu tetaplah gambar yang kabur, memudar dimakan waktu. apa yang bisa kulakukan untuk mempertajamnya? meski aku berusaha menggoreskan pensil warnaku dengan hati-hati, pastilah gambar itu akan tergores. ujung runcing pensil itu akan melukai permukaannya.

(dan aku juga ingin menanyakannya kepadamu: seburam itukah cerita yang dulu pernah kita lukis bersama? tidak bisakah kita memperbaikinya tanpa harus saling menggoreskan luka..?)

———-
(..after all, you’re still you..)

August 18, 2005

semangkuk tiramisu

Filed under: gloomy daisy — difla @ 12:06 am

semangkuk tiramisu itu terhidang di hadapanku.
begitu manis, menggoda, halus, lembut, sejuk, dan lumer di mulut . godaan untuk mencicipinya terlalu kuat untuk bisa kutahan. sesendok dua sendok dengan mudahnya menggelincir masuk tanpa bisa kucegah. dan ketika aku menyadarinya, semua sudah tertelan, habis tak bersisa..

aku menginginkannya lagi, tapi dia sudah tak ada.
meski manis kecap pertamanya masih terasa, yang tersisa cuma mangkuk gelas dingin yang berdenting ketika beradu dengan sendokku. dan itu menyentak kesadaranku. aku memang tak boleh lagi merasakan manisnya terkecap. tak boleh lagi merasakan segala kehalus-lembutannya menyentuh dan membuai. tak boleh lagi merasakan krimnya lumer menggelincir..

semuanya tak boleh lagi ada.
karena mangkuk gelasku telah kukosongkan malam itu. dan aku harus segera pergi, sebelum aku terhanyut, sebelum aku tak bisa menahan diri untuk memesan satu mangkuk lagi. aku harus segera pulang, agar penjaga rumah kecilku tidak menanti terlalu lama. meski sejujurnya aku tak tahu,  sebenarnya aku akan pulang kemana, dan tak tahu rumahku ada dimana..

———-
(..still homesick, while i no longer know where home is..)

August 12, 2005

lalu..

Filed under: gloomy daisy — difla @ 5:45 am

lalu..
kenapa harus kautanya
kulabuhkan kepada siapa
bila dermagamu sungguh tak terpeta?

lalu..
kenapa harus ada
sisa-sisa kegetiran bernoda
bila hasratmu bias cahaya?

lalu..
kenapa kauminta aku terjaga
dalam biduk resah gulana
bila pelitamu sekelam senjakala?

bila sunyimu kauanggap riuh makna
bila jelagamu kauanggap penuh warna
bila gulitamu kauanggap seterang surya
lalu..
kemana aku kan kaubawa?

———-

(..is the best yet to come..?)

August 8, 2005

bejana dahaga

Filed under: gloomy daisy — difla @ 11:53 am

selagi engkau tiada
aku tak berhenti mengembara
desah lepas lapis-lapis jelaga
hingga telanjang dan sia-sia
telah menjelma jadi haus dahaga

selagi aku lakoni pencarianku
kutemui rona resahmu yang pucat ungu
dan elah nafas takutmu akan pergiku
belum lelah aku berpacu
kenapa kautahan langkahku?

selagi heningmu menggigit di dini pagi
getirnya membuatku mengerti
bejana itu tak harus penuh terisi
dan aku harus berhenti
untuk menunggumu disini

——————–
(..if it takes control of my body and soul, should i -always- embrace it..?)

August 4, 2005

If We Must Die

Filed under: Uncategorized — difla @ 4:07 am

If we must die, let it not be like hogs
Hunted and penned in an inglorious spot,
While round us bark the mad and hungry dogs,
Marking their mock at our accursed lot.

If we must die, O let us nobly die,
So that our precious blood may not be shed
In vain; then even the monsters we defy
Shall be constrained to honor us though dead!

O kinsmen! We must meet the common foe!
Though far outnumbered let us show us brave,
And for their thousand blows deal one deathblow!
What though before us lies the open grave?

Like men we’ll face the murderous, cowardly pack,
Pressed to the wall, dying, but fighting back!

(Claude McKay, 1889-1948)

——————–
(for the loving memories of two good guys, good friends, who passed away in this recent two months.. "only good die young..!" )

July 28, 2005

selaput kebencian

Filed under: gloomy daisy — difla @ 4:54 pm

pada diammu yang tak biasa
kutengarai sepercik benci
kepada pijar ledak jelagaku yang tak kaunyana

(meski ada raguku engkau benar bisa membenci
dan kemungkinan tak tahumu
bahwa bencimu adalah cerminmu)

ataukah itu sejumput takut
akan sesuatu yang kau tak ingin berlanjut?

———-

(still wondering.. why do you hate me in a hateful hatred..?)